iNews.network, Bengkulu – Harapan besar menjadikan Pasar Jangkar Mas sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Kota Bengkulu kini semakin memudar. Alih-alih menjadi magnet perputaran usaha, pasar modern yang megah itu justru terlihat sepi, bahkan nyaris tak berfungsi sebagaimana mestinya. Salah satu faktor yang dituding sebagai penyebab adalah keberadaan pedagang liar yang menjamur di seberang bangunan pasar.
Pasar yang dibangun dengan dana Tugas Perbantuan (TP) Kementerian Perdagangan senilai Rp3 miliar dan rampung pada Desember 2023 ini sempat menuai sorotan publik. Peresmian megah oleh Menteri Perdagangan Dr. Zulkifli Hasan, SE, MM pada Juni 2024 kala itu membawa optimisme, bahwa Pasar Jangkar Mas bisa menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat sekitar. Namun, setahun berselang, kenyataan berkata lain: hanya lima pedagang resmi yang bertahan berjualan di dalam gedung pasar.
Devi, salah seorang pedagang yang masih bertahan, tak bisa menyembunyikan rasa kecewa. Menurutnya, dagangan semakin sulit laku karena pasar ditinggalkan pembeli. Ia mendesak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bengkulu untuk segera turun tangan.
“Kalau pedagang liar tetap dibiarkan, kami akan terus merugi. Kami minta ketegasan Pemkot agar pasar ini kembali hidup,” tegas Devi.
Keluhan serupa datang dari Hendra, pengurus Pasar Jangkar Mas sekaligus perwakilan Kepala UPTD Pasar Kota Bengkulu, Ganda Wijaya. Ia mengakui kondisi pasar kian memprihatinkan dan membutuhkan campur tangan serius pemerintah.
“Memang benar, sekarang Pasar Jangkar Mas sangat sepi. Kami mohon perhatian Pemkot Bengkulu agar segera menertibkan pedagang liar di sekitar pasar,” ungkapnya.
Fenomena ini menambah daftar panjang pasar modern yang gagal berkembang akibat lemahnya pengawasan pemerintah serta membiarkan maraknya aktivitas perdagangan liar. Padahal, dana miliaran rupiah telah digelontorkan demi pembangunan pasar yang diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jika tak segera ada langkah tegas dari pemerintah kota, dikhawatirkan Pasar Jangkar Mas hanya akan menjadi “monumen beton” tanpa fungsi ekonomi. Kondisi ini bukan hanya merugikan pedagang resmi, tetapi juga mencoreng wajah pembangunan yang menggunakan dana rakyat.
Pemerintah daerah kini dituntut untuk bertindak cepat, menata ulang sistem pengelolaan, serta menertibkan pedagang liar. Tanpa langkah konkret, nasib Pasar Jangkar Mas akan menjadi simbol kegagalan kebijakan pembangunan pasar rakyat di Kota Bengkulu. (Rudi Syahputra)




Tinggalkan Balasan