Pasar Jangkar Mas di Kota Bengkulu kembali menjadi sorotan publik. Pasar yang menelan dana miliaran rupiah dari Tugas Perbantuan Kementerian Perdagangan itu kini sepi dan nyaris tak berfungsi. Bangunan megah yang pernah diresmikan langsung oleh Menteri Perdagangan dengan penuh harapan, kini hanya menyisakan ironi: lima pedagang resmi yang bertahan di tengah sunyinya transaksi.

Fenomena ini bukan sekadar cerita tentang sebuah pasar yang tidak diminati pembeli. Lebih jauh, ini adalah potret nyata lemahnya pengawasan, minimnya regulasi, serta ketidaktegasan pemerintah daerah dalam menertibkan pedagang liar. Di seberang bangunan pasar, pedagang kaki lima dibiarkan bebas berdagang, merebut arus pembeli yang seharusnya masuk ke dalam pasar resmi. Akibatnya, pedagang yang membayar retribusi justru merugi, sementara pasar yang direncanakan menjadi motor ekonomi daerah kian terpuruk.

Kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pasar Jangkar Mas adalah bukti konkret bahwa pembangunan fisik tanpa manajemen yang matang hanya akan melahirkan “monumen beton” tanpa fungsi. Dana publik sebesar Rp3 miliar jelas terlalu besar untuk dipertaruhkan menjadi proyek gagal guna.

Pemerintah Kota Bengkulu, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan, harus segera mengambil langkah tegas. Penertiban pedagang liar bukan sekadar opsi, melainkan keharusan untuk menjaga keadilan bagi para pedagang resmi yang sudah berkomitmen berjualan di dalam pasar. Lebih dari itu, perlu ada strategi pemasaran, pengelolaan, dan pengawasan yang terintegrasi agar pasar kembali diminati masyarakat.

Redaksi menegaskan, keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya diukur dari berdirinya bangunan fisik. Keberhasilan sejati adalah ketika pasar benar-benar menjadi pusat perputaran ekonomi, tempat pedagang dan pembeli saling menguntungkan, serta roda perekonomian daerah bergerak dinamis.

Pasar Jangkar Mas masih bisa diselamatkan, tetapi waktu kian sempit. Pemerintah harus menunjukkan keberpihakan kepada pedagang resmi dan masyarakat yang telah menaruh harapan besar. Jika tidak, Pasar Jangkar Mas akan tercatat dalam sejarah sebagai simbol kegagalan pengelolaan pembangunan pasar di Bengkulu. (Red)